Wiwin's Zainy

"Seni tertinggi Guru adalah Membangun Kegembiraan dalam Ekspresi Kreatif dan Pengetahuan.........." (GURU PAI DI SMAS DIPONEGORO TUMPANG) Buku yang sudah terb...

Selengkapnya
KUNJUNGAN ISTIMEWA

KUNJUNGAN ISTIMEWA

TEMU NASIONAL GURU PENULIS 2018

Saat pertama mendapat undangan dari Media Guru dalam acara Temu Guru Nasional di Kemendikbud Senayan, Jakarta Pusat tanggal 24-25 November 2018, saya langung bersemangat mengikutinya. Entahlah, padahal event jauh biasanya saya ogah, tapi kali ini seperti beda. Setelah meminta izin atasan, saya semangat mengajak suami dan anak semata wayang kami (Nawafila, 4,5tahun) untuk mendampingi, sesuai jadwal yang di rencanakan, saat berangkat kami memesan sebuah kereta ekonomi, karena kereta lainnya sudah penuh. Untuk pulangnya kami memesan Gajayana, suami saya memutuskan untuk naik kereta, karena kereta adalah kendaraan ternyaman, saya kurang suka bus karena rawan mabuk, sedang jika pesawat tiket hanya cukup satu orang saja.

Tiba waktu yang di jadwalkan akhirnya kami menaiki kereta “Majapahit” pada hari jumat, 23 November 2018, pagi hari jumat, anak saya masih sekolah, saya masih mengajar full dan suami kerja cuti setengah hari. Siang sepulang sekolah saya juga masih mengajar mengaji 1 shift saja sampai jam 15.30. Setelahnya saya menyiapkan keperluan berangkat ke Jakarta sambil menunggu suami pulang kerja. Sampai waktu ashar sudah hampir selesai saya agak cemas suami belum juga datang, padahal kereta di jadwalkan jam 18.30. Sekitar jam 17.00 saya mendengar suara sepeda motor memasuki rumah kami, yang tidak lain adalah kendaraan suami saya. Lalu setelah makan, dan cuci muka kami langsung berangkat menuju statiun baru Kota Malang untuk siap-siap pergi ke Ibu Kota.

Di sepanjang jalan yang semakin gelap kami menyisiri jalan beraspal dengan pelan, suara adzan maghrib berkumandang, suara bising kendaraan padat juga mengiringi perjalanan kami. Mulai kemacetan, kepadatan pengendara jalan, tak lupa saya selipkan bacaan sholawat agar perjalanan kami di lancarkan. Akhirnya dalam waktu 1 jam 15 menit kami sudah sampai di Stasiun. Setelahnya suami saya memarkir sepeda motor di Parkiran yang bisa menginap, sengaja kami naik sepeda agar tidak merepotkan keluarga besar, sebenarnya di tawari Ibu untuk menyewa sopir tetangga dan naik mobil tapi saya anggap tambah ribet, dengan motor seadanya kami bisa melewatinya. Tinggal sepuluh menit saja, kami langsung memasuki ruangan stasiun yang sudah antri panjang, setelah mengecek tiket akhirnya kami berjalan ke arah pintu masuk utama stasiun, setelahnya kami langsung masuk kereta dan mencari tempat duduk. Dengan memesan 3 kursi cukup untuk anak balita yang akan duduk di sebelah kami.

Malam kian mengepakkan sayapnya, setelah mengambil posisi duduk senyaman mungkin, saya pandangi kaca jendela di tepi kereta, pemandangan terang kini berganti gelap, anak kami nampak enjoy dengan suara kereta yang sedikit bising, saat kereta mulai pertama berjalan saya menuntun Nawafila untuk membaca do’a naik kendaraan, namun anaknya tidak mau, tapi saya memakhluminya, namanya juga balita. 3 menit kemudian lampu di gerbong kereta kami mati, mengagetkan kami yang baru menikmati suasana malam di kereta, kini kereta tampak gelap, Nawafila mendekati saya dan merasakan sedikit ketakutan, di samping kami nampak hulu lalang pegawai kereta sibuk memperbaiki keadaan kereta api yang padam.

Lalu saya bisikkan sebuah nasihat pada anakku “Dek wawa makanya baca do’a, tuh kan tadi gak mau bca do’a akhirnya lampunya mati.” Kataku padanya. Nampaknya dia mencerna perkataanku sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti yang saya bicarakan. Beberapa menit kemudian lampu kereta sudah menyala, lalu saya tuntun anakku untuk membacakan do’a naik kendaraan beserta artinya, dan dia mengikuti dengan sempurna.

Kereta malam kian melaju dengan cepat, saya lihat sekeliling sudah terlelap terbawa hawa dingin dan nyamannya dalam perjalanan, saya tatap wajah suamiku tercinta yang duduk di depanku persis, sosok wajah penuh kelelahan. Ahh, suamiku sayang, yang selalu rela berkorban untuk keluarga kecil kami, suamiku yang paling sabar menuntunku menjalani hidup dalam suka duka, jujur saja saya sangat senang, bangga dan nyaman jika bepergian kemana saja mengajak suami dan anak, karena bisa berbagi kebahagiaan dan melewati banyak moment indah. Makanya dalam event ini juga saya mengajak serta suami dan anak.

Tiba waktu subuh, kulihat dalam kereta sudah banyak yang membuka mata, setelah mencuci muka kami lanjutkan dengan sarapan, kupandangi jendela kaca di samping anakku masih terlelap, suamiku juga setelah sholat melanjutkan tidurnya, hawa perjalanan memang paling nyaman untuk tidur, sejam kemudian, sinar mentari kian menyelimuti kami. Jadwal 16 jam perjalanan ke Jakarta, kurang 4 jaman lagi, di jadwalkan kereta kami kemarin berangkat jam 18.30 dan menurut jadwal akan sampai jam 09.30 nanti di Stasiun Pasar Senin.

Sampai di Stasiun Cirebon hp suami berdering, nampak suamiku panik mendengar suara di telephonenya, saya juga ikut serius mendengarkan percakapan tapi tidak terlalu terdengar, setelah selesai saya bertanya pada suami.

Aqom kecelakaan.” Kata suami saya yang mengabarkan adik ipar saya mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang ke rumah dari pesantrennya di daerah Jombang. lalu suami saya segera mengabarkan orang tua kami di rumah. Sambil memantau keadaan adek saya di bawa ke RS yang paling dekat dengan lokasi kecelakaannya, menurut kabar yang saya terima akan di adakan pemeriksaan seluruh tubuhnya, karena darah terus mengucur dari hidung dan muntah juga, apalagi saat kecelakaan adik tidak sadarkan diri.

Laju kereta kian kencang, kami sudah sampai di Stasiun Cikampek, stasiun yang mengingatkanku pada kisah masa lalu bersama kakak-kakakku, tiga kakakku pernah hidup di daerah Cikampek, dulu saat masih sekolah saya sering liburan ke Cikampek dan pasti turun dan naik di stasiun ini, senyum ringan menghias pipiku mengenang masa itu, bahkan saya ingat kelas 3 SMP saya pulang sendiri dari Cikampek ke Nganjuk, padahal saya belum pernah bepergian jauh kala itu, ah saat itu saya sudah ABG.

Lamunanku sirna saat roda kereta kian melaju dan sudah masuk di Stasiun Jatinegara, tiba saya mengingat suatu waktu saat saya mengunjungi rumah sepupu di Bekasi naik dan turun di Stasiun ini, waktu masih kuliah, mungkin saat ini jika kesana lagi saya sudah tidak tau arah, lagipula semua keluarga pamanku sudah pindah ke Solo, entah nomor kontak mereka saya juga kehilangan. Kelima pamanku tinggal di Jakarta, tetapi saya kehilangan kontak semuanya, berharap semoga suatu waktu bisa di pertemukan dengan saudara dari ibuku itu.

Tiba akhirnya stasiun Pasar Senin, suasana panas, padat pengunjung dan khalayak, kami turun dengan membawa beberapa barang makanan, juga kardus titipan ibu mertua untuk kakak iparku di Depok, entah bagaimana nanti akan ketemu yang penting kami bawa saja.

Setelah turun dari kereta kami langsung menepi di depan swalayan dan memutuskan untuk mempersiapkan diri, mandi, makan dan lainnya di hotel, badan seperti risih seharian tidak mandi dan kota jakarta yang terasa semakin panas. Setelah pesan grabcar kami langsung menuju hotel “OYO 108 Surya” yang kami pesan dari panitia Temu Nasional Guru Penulis 2018 ini. Sekitar 1 jam kami sampai di Hotel, karena macet Ibu Kota yang memang setiap hari apalagi weekend seperti ini.

Setelah sampai di hotel sekitar jam 11.30 ternyata masih penuh, sedang saya tidak sabar untuk segera mandi, kami menunggu sekitar 30 menit untuk bisa masuk karena masih di bersihkan dan persiapan lainnya. Sempat kami berencana ingin menyewa hotel lainnya karena tidak sabar ingin segera masuk. Tetapi tiba-tiba seorang pegawai hotel mempersilakan kami untuk check in, akhirnya kami bisa masuk kamar.

Sampai kamar saya langsung mandi dan berganti siap-siap ke Kemendikbud, begitu juga suami dan anak, sebenarnya capek hanya saat ini kami harus segera kesana belum juga makan seharian, tapi kami mengejar waktu agar tidak ketinggalan acara, walaupun acara sesungguhnya sudah di mulai jam 08.00 pagi tadi, tapi sudahlah yang penting kami bisa hadir dengan selamat. Setelah siap kami memesan grapcar lagi untuk sampai di Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat, setelahnya kami langsung masuk lantai 2, disana sudah banyak peserta bahkan dari luar jawa sudah dari kemarin di Ibu Kota.

Saya langsung masuk ke Lokasi, hampir mayoritas memakai baju batik, saya tidak mengenal satupun orang di dalamnya, hanya Pak Eko Prasetya, Pemimpin Umum Media Guru yang kemarin saya ikut kelas Editornya di Batu. Setelah menyapanya, saya rasakan AC yang menusuk tubuh, anakku terlelap di pangkuan, saking capeknya, sepertinya sayalah peserta satu-satunya yang mengajak suami dan anak balita. Karena tidak saya lihat selain anak saya usia anak saya. Ada beberapa siswa dari Lampung ikut memeriahkan acara ini.

Jam 15.00 acara sudah selesai, semua sudah boleh meninggalkan lokasi, banyak yang masih melaksanakan sesi fotho-fotho pada background Media Guru, ada juga yang langsung pulang, entah ke hotel atau rumah mereka yang asli Jakarta. Saya menawarkan suami untuk mengunjungi rumah kakak di Depok, khawatir kardus berisi makanan yang di bawakan ibu basi, apalagi acara yang di jadwalkan selesai jam 17.00, ternyata jam 15.00 sudah selesai dan anakku selalu menyebut nama sepupunya, niat anak saya ke Jakarta memang mengunjungi sepupunya, Shafiyya jameela .

Akhirnya kami memesan grap untuk menuju stasiun Senayan, sampai stasiun senayan kami akan naik KRL langsung ke stasiun depok baru, dan di jemput kakak nantinya. Tidak kusangka waktu pertama naik KRL yang superpadat isinya, bahkan saya hampir tidak bisa bernafas, anak saya rewel akhirnya ada seorang ibu yang baik hati menawari kami duduk. Para penumpang KRL ini sungguh peka jiwa sosialnya, mereka lebih mendahulukan ibu-ibu yang membawa anak kecil dan orang tua untuk didahulukan duduk, daripada wanita muda, akhirnya saya bisa bernafas lega, Kereta KRL melaju dengan sangat cepat, setengah jam kemudian kami sudah sampai di Stasiun Depok Baru, bertemu kakak disana.

Menggunakan sepeda motor kami menyusuri kawasan Depok menuju rumah kakak ipar tercinta, sampai di Pertigaan gang suami saya sudah hafal hingga sampai perumahannya, suami saya ini punya kelebihan mudah sekali menghafal jalan-jalan, dimanapun sekali melintas langsung hafal, beda dengan saya, jalan-jalan kecil apalagi berbelok-belok sulit sekali menghafal. Baru sekitar 2 minggu kemarin suami saya berkunjung ke rumah kakak waktu ada pekerjaan di jakarta dan kini berkunjung kesana lagi dengan saya dan anak kami.

Tiba di jalan setelah pertigaan, entah apa namanya, anak saya meminta susu di swalayan terdekat, akhirnya kami berhenti, membeli beberapa botol, setelahnya kami melanjutkan menuju perumahan tempat tinggal kakak. Masuk di Gang bertuliskan Perum Depok Mulya 1 akhirnya kami sampai juga. Sejurus kemudian sampai di depan rumah kakak, tapi masih terkunci, apa mereka mengira kami ketinggalan dan kebingungan di jalan jadi mereka yang semula di depan kami akhirnya balik menyusul? Padahal suami saya sudah hafal jalan kesana. Semenit kemudian ada suara sepeda di belakang kami, sepeda kakak kami, diatasnya ada serta 2 keponakanku. Sesuai firasatku mereka kembali mencari kami, dikira kami bingung dan tersesat di jalan. Akhirnya kami masuk ke dalam rumah dan sudah terdengar adzan maghrib berkumandang.

Gerimis kecil kian memadati depan jalan perumahan elite di kawasan Ibu Kota, ramai dan terlihat padat dan bersih. Rumah yang tersusun rapi, tapi suasana gelap sedikit menyembunyikan kekhasannya.

Nawafila kian asyik bermain dengan kedua sepupunya, anak-anak kecil itu seakan meluapkan kasih sayangnya dengan terlihat akur dan senyum yang mengembang pada keduanya. Lupa lelah, lupa makan dan lupa waktu, padahal saya dan suami sangat capek sekali, suami saya merebahkan diri di karpet lantai ruang tamu sampai tertidur, nampak, kakakku sibuk menyiapkan makan malam kami. Setelah cerita-cerita, tidak di sangka waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 akhirnya kakak kami mengantarkan ke Hotel tempat kami bermalam, kami tidak bisa menginap karena pagi sekali besok ada acara berkunjung ke Pepursnas RI, padatnya kawasan Ibu Kota memadati pula perjalanan kami, nampak saya buka percakapan dengan kakak agar kami tidak ada yang mengantuk, tapi nampaknya seluruh penghuni mobil sudah kelelahan, apalagi anak-anak yang semula riang tidak terdengan sama sekali suaranya, hanya dengkuran-dengkuran halus yang kalah dengan suara kendaraan malam yang kian lalu lalang. Kawasan ibu kota selalu padat dengan pengendara. Sejam kemudian saya tidak ingat apa-apa, yang saya ingat, kami sudah sampai di Hotel tadi siang, tempat kami check in. Ternyata saya juga tertidur, padahal sudah niat tidak tidur. Saya langsung turun dari mobil dan menggendong anak ke Lobby hotel sambil menunggu suami dan kakakku turun mengangkati barang bawaan kami.

Lalu kakakku pamit pulang, kami salaman dan mengucapkan perpisahan, mungkin lebaran tahun depan kami bisa berjumpa lagi. Semoga semua di berikan kesehatan selalu. Sampai di kamar hotel, saya langsung cuci muka dan berganti pakaian, langsung tidur di kasur, suamipun sama, kami menikmati malam dengan berbagai aktifitas hari ini.

Hari ini, pagi sekali saya sudah siap rapi karena ada agenda mengunjungi Perpusnas RI, tapi karena jam buka masih jam 09.00 saya beserta rombongan dari hotel yang sama, berjalan-jalan sebentar ke Monas Jakarta. Entah berapa tahun saya tidak ke Monas. Seingatku dulu terakhir tahun 2006 zaman masih kuliah. Saat itu suasana masih berbeda, mungkin karena pemikiran saya yang berubah, saya lihat monas masih sama, masih berdiri kokoh dengan megahnya.

Satu hal yang berbeda, saat ini saya berkunjung kesini dengan membawa satu karya, karya tulisan hasil tahun ini. Semoga ke depan saya bisa mengunjungi Monas dengan banyak karya lagi. Wahai monas, tetap berdirilah dengan megah, tunggu kami, yang akan banyak membawa karya di depanmu, semangat kami yang lebih tinggi menjulang dari sekedar bangunanmu. Bangunanmu bisa roboh oleh waktu, tapi semangat kami pantang menyerah untuk selalu berkarya.

Saat jalan-jalan pagi dengan beberapa teman dari Hotel, kami sempat mengunjungi rumah makan dan lewat Monas, saat semua sedang sibuk fotho2 saya menghampiri gerombolan ibu2 yang duduk-duduk di pinggir dekat Monas, disana saya lihat mereka asyik ngobrol, saya pun mencoba mengakrabi, sok kenal saja, karena tertarik seragam mereka yang menyala dan sepertinya bagus untuk di ajak fotho.

Lalu dengan gaya sok akrab dan sok kenal saya langung menyapa mereka dan mengajak fotho bersama, karena kebetulan saya membawa kamera yang bagus (menurut pandangan saya sih) kan kamera nyewa online di Jakarta sambil bondong2 membawa pigora cover buku saya.

Rupanya salah satu dari ibu2 tersebut ada yang meragukan saya dengan bertanya "Ini fotho bayar tidak"? Kata Salah satu ibu. Saya langsung kaget dan menjawab :"Tidak bu, saya adalah seorang guru, bingkai fotho yang di tangan saya ini salah satu buku karya saya yang mau saya bawa ke Perpusnas, ini tadi kebetulan lihat seragam ibu2 merah menyala bagus, jadi saya kepingin fotho bersama." Kata saya yang sedikit sebal sih, Masak saya dikira tukang fotho keliling? padahal dari subuh sudah mandi dan tampil secantik mungkin.

"Oh iya, nanti bagaimana ngirimnya." Kata salah satu dari mereka melanjutkan bertanya.

"Saya minta nomor wa salah satu ibu, setelah data dari kamera saya pindah saya kirimkan lewat whatsup." Kata saya melanjutkan. Jadi deh fotho bersama emak2 kece yang sedang senam di Monas.

Beberapa menit kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Perpusnas RI walaupun masih mampir-mampir sih. ikut rombongan orang dari Kemenkes yang sedang mengadakan cek kesehatan gratis, lumayan dapat tas berisi handuk, poster2, bulpen dan gelas kaca cantik. Senang sekali sebagai ibu muda saya mendapatkan yang gratis2.. hehehe

Itulah cerita saat di Jalan dalam perjalanan ke Perpusnas di Monas, kenapa saya jalan sendirian saja? Padahal ke Jakarta bersama suami dan anak. Suami dan anak saya sengaja saya suruh menunggu di Hotel saja agar istirahat sebelum nanti sore kami akan balik ke Kota Malang tercinta. Jadi saya yang keluyuran sendirian, sampai jumpa lagi Monas, akan ada banyak cerita seru denganmu setelah ini.

Langkah kaki saya lanjutkan untuk menuju Perpusnas RI, yang berjarak 100m dari Monas, tinggal menyeberang sedikit, kami langsung di sambut Satpam yang sangat ramah, lalu kami masuk, saat pertama lihat Perpusnas RI, mirip bangunan lama yang keramat, banyak miniatur-miniatur kuno, kitab klasik dan beberapa fotho dan lukisan Pahlawan Negara Indonesia. Setelahnya kami langsung duduk dan fotho bersama di Depan Gedung bertuliskan Perpustakaan Republik Indonesia, Perpustakaan ini ada 24 Lantai, tinggi menjulang, mulai lantai dasar banyak karya buku-buku dan lantai 2 tempat regristasi, dan beberapa ruangan untuk acara formal, sungguh mengagumkan bisa bergabung dengan guru-guru penulis yang hebat mereka dari seluruh Indonesia, hari ini adalah pesta Nasional Guru Penulis.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Mantab tulisannya bu, meski akan lebih mantab kalau lebih panjang tulisannya

06 Dec
Balas

Sudah saya perbaiki Bapak, puanjang sekali jadinya..hehe Mohon bantuannya untuk mengedit... semoga berhasil menjadi sebuah karya yang bermanfaat dunia akhirat..aamiiin

07 Dec

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali